RESENSI BUKU
APPLE
VS GOOGLE: PERANG RAKSASA TEKNOLOGI YANG MELAHIRKAN REVOLUSI, Yogyakarta: Bentang, 2015 (Viii,344 Hal; 20,5cm)
“Perkembangan teknologi kian melesat cepat
bagai roket yang terus melambung diangkasa, untuk dapat terus berkembang
dibutuhkan pembakar untuk melesat kian jauh menembus pasar”
Perkembangan zaman yang semakin maju menyebabkan tuntutan teknologi yang
sesuai dengan massa nya. Oleh karena itu manusia sebagai sang pencipta
teknologi harus selalu berpikir dan menemukan hal yang bisa menjadi suatu
terobosan terbaru sehingga dapat bermanfaat didalam kehidupan manusia.
Teknologi sendiri tidak dapat lepas dari yang namanya perkembangan zaman.
“Iphone bukan sekedar telepon, melainkan KOMPUTER PORTABLE PERTAMA yang
muat di kantong, dipergunakan secara luas, dan dapat melakukan panggilan telepon.
Berkat touchscreennya, iphone memiliki BANYAK FITUR yang mustahil dikerjangan
oleh telepon lain.” Berikut adalah
kutipan dari buku tersebut, dan gonjang-ganjing di bidang media serta teknologi
yang di sulut oleh iphone kemudian diperluas cakupannya oleh Andorid telah
pecah menjadi revolusi total berkat kemunculan Ipad. Tahun-tahun selepas
meninggalnya Stave Jobs, badai masih melanda Silicon Valley, New York, dan
Hollywood. Penyebabnya bukan karena semata – mata karena dua perusahaan
terbesar dan paling berpengaruh di dunia, penyebab Apple dan Google tengah
bertarung sampai mati ini melainkan karena revolusi mobile yang dicetuskan
mendadak membuahkan kira-kira 250 dollar miliar dari lusinan bidang industri.
Pemasukan tambahan nan menjanjikan itulah yang diperebutkan para pelaku perang
teknologi. Bagi mereka yang tidak memiliki perubahan, lima tahun terakhir ini
amatlah sangat berat untuk memenangkan persaingan .
Tetapi sebenarnya keberhasilan Apple ini tidak semulus yang dilihat karena
didalam buku berjudul Steve Jobs & Apple Incc karangan
dari Christopher Lee mejelaskan
bagaimana kehidupan sang pencipta Apple yang penuh dengan lika-liku kehidupan
yang cukup berat bahkan dia sempat tidak bisa membayar uang kost dan hanya bisa
menumpang hidup dengan teman-temannya dan bekerja mengumpulkan botol-botol
kosong demi memenuhi kebutuhan. Dan akhirnya pada tahun 1974 karena sangat membutuhkan
uang Stave melamar kerja di Atari dan kehidupan Steve Jobs pun berubah lebih
baik. Steve diminta menciptakan papan sirkuit untuk permainan break out,dari
sinilah perkembangan dan terobosan Apple dimulai.
Didalam buku Digital
Wars, Aplle - Google - Microsoft dan Pertarungan Meraih Kekuasaan Atas Internet yang ditulis oleh Charles Arthur ini juga menjelasan lebih rinci mengenai
persaingan Apple bahwa awal mula persaingan Apple dan Microsoft yaitu di tahun 1998 adalah tahun Microsoft menjadi sang
jawara, hal tersebut dapat terlihat dari hasil penjualan Windows 3.0 pada
hampir 95% PC di dunia. Angka yang cukup membombastis yang membuat perusahaan
berpacu untuk terus berkembang dan membuat
Microsoft berbangga diri. Namun sayang, ditahun yang sama dengan
berjayanya microsoft pun terjerat antimonopoli. Microsoft dituding telah
melakukan monopoli sistem operasi pada kasus browse Netscape yang merugikan
para pebisnis lain dan konsumen.
Meski terbukti dengan tuduhan monopoli tersebut, Microsoft sangat amat
beruntung ketika lolos dari sanksi dan hukuman peradilan Antimonopoli. Dengan
saham yang dimiliki perusahaan yang melejit mencapai $250 miliar tahun 1998,
Microsoft menjadi potensial untuk mengembangkan bisnisnya dibidang yang lain.
Beberapa perusahaan sejenis dan terkait akhirnya mau tak mau harus berhadapan
dengan perusahaan raksasa tersebut. Persaingan pun muncul diantara Apple vs Microsoft
dan Google vs Microsoft
Persaingan dari sistem operasi pun dapat di menangkan oleh Microsoft, dan
Apple pun mengakui kekalahan. Namun Tim
Cook (CEO Apple) menyatakan bahwa ia akan membuat medan perang baru yang akan
mengalahkan Microsoft. Dan beberapa tahun kemudian Apple membuktikan ucapannya
itu. Keberuntungan tak berpihak pada Microsoft saat bersaing di mesin pencari.
Google yang memiliki teknik pencarian yang cepat dan terbaik dengan cara kerja
“PageRank” membuat Microsoft dengan MSN.com-nya gigit jari karena jauh kalah
pesat dengan cara kerja google dengan teknik yang mengungguli.
Medan baru yang dimaksud Apple akhirnya tercetus. Pada 23 Oktober 2001,
Steve memperkenalkan produk baru yang dia miliki dibidang musik. Produk
tersebut ia namakan iPod benda tipis yang minimalis dan juga cukup menarik.
Meski iPod saat itu masih bisa support ke Machintos namun produk ini langsung
diserbu pasaran dan laris manis karena pada saat itu belum ada perangkat musik
digital yang murah dan efisien seperti ipod. iPod saat itu telah mampu
mempercepat transfer musik 30 kali lebih cepat dari USB 1.1. Kapasitasnya juga
tidak diragukan lagi, kalau produk pasaran pada massa itu hanya mampu menyimpan
32 – 64 MB, dengan iPod generasi kedua kapasitas musik yang bisa disimpan bisa
mencapai 20 GB, angka yang cukup memiliki perbedaaan sangat jauh dari pasaran
yang ada pada masa itu.
Melihat Apple berjaya membuat Microsoft berpacu untuk melambung lebih
tinggi, lalu tak mau kalah Microsoft pun mengeluarkan Xbox. Namun sayang sekali
hal tersebut tak membuat microsoft dapat melambung tinggi, mereka sudah
ketinggalan untuk dapat melebihi apple . Karena pada saat Microsoft
memperkenalkan Xbox, iPod telah menciptakan iTrip, sebuah alat transmitter yang
mampu memainkan iPod di mobil. Ipod pun berjaya hingga tahun penghujung 2004
dengan penjualan 2 juta unit. Dengan kemunculan iTunes Music Store, pendapatan
Apple menembus rekor mencapai $13,9 miliar dan laba sebesar $1,3 miliar ditahun
2006.
Dan persaingan ini pun terus di menangkan oleh Apple, Microsoft pun lagi-lagi
kini mengakui akan kekalahannya. Mungkin saat ini Microsoft merasa sudah berada
di ujung tanduk karena persaingan pasar yang kini dua kali berturut-turut terus
dimengangkan oleh Apple. Persaingan antar teknologi tersebut sangat berhubungan dengan penurunan dalam
penjualan terjadi pada akhir kuartal pertama tahun 2011 sebesar 5% pertahun.
Saat iPod menurun, muncul persaingan dibidang-bidang lain. Ponsel pintar atau
smartphone menjadi ajang pertarungan baru antara Microsoft dan Apple.
Pertarungan dibidang ini meliputi banyak produsen. Saat Microsoft
memulai proyeknya dengan Windows Phone, Google bekerjasama dengan Android yang
dirintis oleh Andy Rubin. Produsen smartphone lain yang sedang berjaya saat
itu adalah RIM (Reseach in Motion) yang memproduksi BlackBerry dari Kanada.
Meski pertarungan masih berjalan hingga saat ini, ada beberapa hal yang sudah
bisa disimpulkan. Android adalah produsen smartphone yang paling berjaya.
BlackBerry yang dulu berjaya di era tahun 2006-an, kini telah menurun drastis
penjualannya. Nokia kini malah sudah diakuisisi oleh Microsoft untuk bisa
bersaing dengan android. Tetapi baru- baru ini Microsoft juga menggelar
event pada 6 Oktober 2015. Event tersebut dijadikan ajang untuk memperkenalkan
deretan produk baru Microsoft, dan salah satu produk yang diperkenalkan adalah
Surface Book. Dengan Microsoft meluncurkan Surface Book, ini menandakan laptop
tersebut akan menjadi saingan MacBook Air yang merupakan besutan Apple.
Saat ini, Microsoft
sedang membangun ekosistem hardware yang menunjang kekuatan dari smartphone dan
tablet, hingga aplikasi dan cloud. Hal itu dibuktikan Microsoft dengan hadirnya
Surface Book, di mana Surface Book menjadi laptop pertama, yang jelas tidak
hanya membidik MacBook Air sebagai pesaingnya, tetapi juga mitra industri PC
Microsoft sendiri. Microsoft pun juga mengatakan,
Surface Book diperuntukkan untuk seseorang yang ingin layar yang lebih besar
dan memiliki pengalaman mengetik sempurna dari laptop.
Seharusnya Microsoft berintrospeksi terus bangkit tanpa menyerah serta
mau belajar dengan perkembangan yang ada. Tim Cook sebagai Ceo Apple pun mengungkapkan bahwa“Jika
Anda Kalah Berperang, Salah Satu Cara Untuk Menang Adalah Pindah Perang Ke
Medan Baru” . Jadi
untuk dapat memenangkan pasar dari masyarakat di dalam pasaran kita harus dapat
memahami apa yang dibutuhkan masyarakat dan bagaimana cara membuat sesuatu yang
bermanfaat dengan harga yang relatif murah, Buku ini menjelaskan dan memberi pembelajaran
bahwa Apple vs Google bukanlah percekcokan klise antara dua perusahaan kaya
biasa, namun perseteruan yang menentukan siapa pengontrol gaya hidup generasi
masa depan. Jika Anda penasaran mengapa Silicon Valley menjadi pusat inovasi
global, mulailah dari buku ini.